Jangan Menyusahkan Pembaca

Sabtu, 4 Juli 2020, berlangsung webinar bertajuk Swasunting itu Penting. Acara ini merupakan salah satu kegiatan Klub Pena, sebuah klub menulis yang mengusung semangat menulis cerdas, asyik, dan kreatif. Kegiatan diikuti 29 peserta menggunakan platform Zoom Meeting. Acara berlangsung selama dua jam, sejak pukul sepuluh pagi. Ibnu Wahyudi, dosen penulisan dan penyuntingan dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, menjadi narasumber.


Ibnu Wahyudi dalam pemaparannya menyampaikan pentingnya swasunting atau self-editing. Penyunting yang baik harus menguasai aspek kebahasaan, memiliki kepekaan bahasa yang istimewa, menyadari hasil suntingannya akan dibaca orang, serta harus memahami segmen pembacanya. Beberapa prinsip komunikasi tertulis harus diperhatikan, yakni efektif, nikmat atau nyaman, akurat, dan konsisten atau kreatif.


Ibnu menekankan pentingnya tulisan yang efektif dalam penyampaian agar tidak menyebabkan pembaca kesulitan memahami isinya. Perlu diperhatikan beberapa penyebab yang mengurangi kenikmatan atau kenyamanan ketika membaca, seperti tanda baca dan fon, ejaan, pilihan kata, frasa, urutan kata, kalimat, paragraf, dan wacana. Keakuratan pada data yang ingin disampaikan juga harus menjadi perhatian. Ketika hendak menggunakan kata serapan dari bahasa daerah maupun bahasa asing, konsistensi penggunaannya harus dijaga dalam keseluruhan tulisan. Tak jarang, penyunting harus kreatif dalam pemilihan kata agar isi tulisan dapat dipahami oleh pembaca.
Serangkaian contoh tulisan dengan proses sunting yang kurang memadai ditunjukkan oleh Ibnu. Keterbatasan waktu dalam melakukan proses sunting jangan dijadikan alasan untuk menerima tulisan yang keliru secara tata bahasa. Semangat melakukan swasunting ini tentunya agar dihasilkan karya tulisan yang baik dan tidak menyusahkan pembaca dalam memahaminya. 


Berkali-kali Ibnu berpesan agar penyunting harus selalu berusaha memperbarui dan meningkatkan pengetahuan tentang perkembangan kosakata serta pedoman umum kebahasaan. Beliau mencontohkan kondisi pandemik saat ini, di mana bermunculan istilah yang awalnya belum ada dalam khazanah kosakata bahasa Indonesia. Menurut beliau, tak mengapa bila penyunting mencoba memperkenalkan sebuah istilah baru untuk hal yang memang belum ditetapkan. Beliau memberi ilustrasi beberapa kata seperti kuncitara (lockdown), menginikan (throwback), dan retasiar (doxing).

Foto: Freepik.com

4+
1 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Be Your Self
Read More

Be Your Self

Sering kali kita menemukan ada teman kita yang suka meniru gaya berpakaian, gaya berbicara, bahkan gaya hidup orang…