Asraf

Asraf adalah salah satu murid yang cerdas dan periang. Anak laki-laki berkulit putih dengan senyum menarik itu, mudah bergaul dengan siapa saja. Selain humoris, ia juga ringan tangan dan senang membantu orang lain, termasuk aku, gurunya.

Hari ini, Asraf tidak masuk sekolah. Terhitung sudah tiga hari, Asraf tidak hadir di kelas. Sekolah juga tidak menerima informasi mengenai alasan ketidakhadiran Asraf beberapa hari ini.

“Selamat pagi, Bu,” ucap murid-murid mulai berdatangan.

“Selamat pagi,” jawabku sambil tersenyum.

Setelah mengucapkan salam dan menghampiriku untuk mencium tangan, mereka menuju meja masing-masing. Namun, Ravena diam terpaku dengan raut wajah sedih, berdiri di dekatku.

“Ada apa, Ravena? Ravena terlihat sedih,” sapaku lembut.

“Aku sedih, Bu. Mamaku bilang, Asraf meninggal,” kata Ravena dengan suara pelan dan bergetar. Ia hampir meneteskan air matanya.

Deg. Jantungku terasa berhenti berdetak. Senyumku lenyap seketika. Aku memeluk Ravena.

Asraf? Apa benar yang dibilang Ravena? Bagaimana bisa Asraf pergi secepat itu? Mengapa orang tua Asraf tidak menghubungi aku selaku gurunya? pikirku.

“Ravena, sekarang duduk dulu, ya. Siapkan buku untuk belajar. Jangan bilang teman-teman mengenai Asraf, ya. Bu Nia mau menelepon sebentar di luar,” kataku sambil bergegas meninggalkan kelas.

Tuuut… Tuuut… Tuuut…

Nada sambung terdengar beberapa kali saat aku menghubungi mama Ravena, untuk mengonfirmasi berita yang disampaikan anaknya. Aku mencoba beberapa kali dengan perasaan sedih dan gundah. Namun, mama Ravena belum juga mengangkat gawainya.

Aku mencoba bertanya ke bagian administrasi sekolah, guru-guru, dan kepala sekolah mengenai berita duka itu. Namun, tidak ada yang mengetahuinya. Kepala sekolah bahkan meminta aku, sebagai guru kelas Asraf, untuk mencari tahu kebenaran berita tersebut.

Pertanyaan demi pertanyaan terus bermunculan di kepalaku. Baru tiga hari Asraf tidak masuk sekolah, artinya hanya tiga hari ia sakit dan meninggal. Asraf sakit apa? Begitu parahkah, hingga ia pergi dengan cepat?

Kesedihan merasuk dalam diriku. Aku pun kebingungan karena belum mendapatkan kejelasan. Aku mencoba menghubungi mama Ravena sekali lagi.

“Selamat pagi, Bu Nia.”

Aah… akhirnya mama Ravena mengangkat juga handphone-nya.

“Selamat pagi, Ma,” jawabku.

Hening. Aku terdiam.

“Maaf sebelumnya, Ma. Saya mau mengonfirmasi, apa ada berita duka dari murid kelas kita, Ma?” tanyaku dengan gugup.

“Berita duka apa ya, bu?”

“Hmm.. maaf sebelumnya, ma. Tadi Ravena bilang, katanya Asraf meninggal. Ravena bilang, ia mendengar dari Mama. Apa benar beritanya, Ma?” tanyaku terus terang.

Hening. Tampaknya mama Ravena sedang berpikir.

“Asraf? Ooo… iya, Buu… Ituu… suami BCL, Asraf Sinclair…” jawab mama Ravena datar.

Nyesss… Kepalaku terasa seperti disiram air dingin.

Ternyata Ravena mendengar Mama dan tantenya membahas meninggalnya seorang artis ibukota, Asraf Sinclair, saat sedang sarapan sebelum berangkat sekolah. Ravena yang tak paham, mendengar nama Asraf disebut-sebut, menyimpulkan bahwa itu adalah Asraf teman sekolahnya.

Aaah… semoga Asraf muridku dalam keadaan baik-baik saja, bisikku dalam hati. Aku pun bertekad untuk mendatangi rumahnya, setelah pulang sekolah hari ini untuk melihat keadaannya.

***

Foto: Freepik.com

1+
1 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Read More

Salak Mak Rini

Mak Rini berjalan menyusuri gang-gang pasar tradisional yang cukup ramai. Hari ini Mak Rini ingin membeli buah untuk…
Read More

Alex

Pertama kali aku mengenal Alex adalah seminggu setelah kami sekeluarga pindah ke sebuah kampung di pinggiran Yogyakarta. Aku…
Read More

Potluck Party

“Hai, Ton?” sapaku kepada Tony spontan.  Namun, Tony terus melangkah dan diam saja.  Dia tampak asyik dengan telepon…
Read More

Serial Eci (2): Salah

Seakan lupa dengan terik matahari yang baru saja membakarnya di atas ojek, Eci segera mengganti baju seragamnya dengan…
Read More

Sekilas Nino: Chef on Call

Sejak diberlakukannya masa PSBB, Nino memang jarang mendapatkan panggilan bekerja dari perusahaan katering, restoran, hotel atau klien individu.…
Read More

Takjil Kesukaan Lona

oleh: Ibuw Sansris Kaki kecil itu menerjang genangan daun kering di trotoar. Suara ‘kriuk’ gurih daun yang sudah…