Salatiga, Kota Tua Warisan Budaya

Kota Salatiga

Hai Sahabat Pena, sudah pernahkah berkunjung ke Salatiga?

Bulan ini tanggal 24 lalu Salatiga merayakan Ulang tahunnya yang ke 1270. Konon menurut prasastinya, Salatiga merupakan daerah perdikan yang ditetapkan  sejak tahun 750 M. Sudah mulai menua ternyata.

Apabila sahabat pergi ke Semarang, sempatkan jalan jalan sekitar 49 km ke arah selatan. Melewati tol yang menghubungkan Semarang-Solo, sahabat akan disuguhi pemandangan hijau bukit dan lembah di kanan kiri yang menikmatkan mata. Setelah sampai di Salatiga, sahabat akan berhadapan dengan kokohnya gunung Merbabu yang berdiri tegak menjulang memberikan keindahan panoramanya.

Banyak orang menyebut Salatiga sebagai Indonesia kecil. Mulai dari etnis dan agama apa saja ada. Salatiga mempunyai sekolah internasional yang isinya banyak bule dan orang Korea. Salatiga juga punya klenteng yang besar di pusat kota. Masjid dan gereja pun tidak sungkan berdekatan, bahkan muslimah bercadar pun bisa ditemukan di mana-mana. Di Salatiga juga ada universitas kristen yang besar, mahasiswanya banyak dari Indonesia timur. Sekolah teologia juga ada di Salatiga, tetapi pondok pesantren besar  pun ada di Salatiga.  Walaupun sebagian besar penduduknya didominasi suku Jawa, Salatiga gudangnya etnis Cina. Penduduk asal Indonesia timur juga sangat banyak bertebaran di Salatiga. Namun, saya hampir tidak pernah mendengar ada kerusuhan karena sara, benar-benar rapi berdampingan. Seperti Indonesia…

Salatiga yang pernah dijadikan sebagai kota poros penting VOC meninggalkan banyak sekali bangunan lama. Benteng yang dahulu digunakan sebagai pertahanan militer Belanda sekarang dialihfungsikan sebagai kantor satlantas. Bekas kantor kempetai yang bergaya neoklasik, sekarang digunakan sebagai kantor walikota. Bahkan, banyak sekali rumah warga yang masih bergaya Belanda dengan jendela besar yang memang sengaja tidak dipugar.

Salatiga juga kota kuliner. Salatiga mempunyai makanan khas tumpang koyor yang biasanya dijual pagi untuk sarapan. Bau harum daging daging sapi bercampur dengan tempe busuk, dimasak jadi satu sekalian dengan bumbunya dan ditambah santan yang menambah gurih rasanya. Sahabat juga bisa mendapatkan camilan seperti enting-enting gepuk yang berbahan dasar kacang, keripik paru sapi, gula kacang, hingga singkong keju D9, salah satu toko jajanan khas Salatiga yang tidak pernah sepi pengunjungnya.

Banyaknya pendatang yang asalnya dari berbagai macam daerah menjadi salah satu faktor keragaman warna kuliner di Salatiga. Ada rujak cingur, ada juga sate Madura, warung padang, lesehan Lamongan, hingga wedang ronde yang menambah hangat hawa dingin Salatiga. Kalau sahabat mau mencari biryani, teokbokki atau onigiri pun ada.

Meskipun begitu, Salatiga kota yang kecil. Dikelilingi oleh kabupaten Semarang yang pusat kotanya didominasi dengan pasar. Berdagang adalah mata pencaharian terbanyak penduduknya. Karena terletak di lereng timur gunung Merbabu membuat kota Salatiga berhawa dingin dan sejuk. Walaupun tidak sedingin di daerah Dieng, airnya sangat segar. Di pinggiran kotanya masih banyak ditemukan hehijauan sawah membentang. Tidak heran kalau Salatiga cocok sekali untuk beristirahat dari hiruk-pikuk aktivitas.

Ayo berkunjung ke Salatiga!

Foto: regiona.kompas.com

 

 

0
3 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like