Pillow Talk, Pentingkah?

pillow talk

Membahas kehidupan rumah tangga, seolah tak akan habis. Banyak pahit manis yang harus dilakoni. Komitmen seumur hidup ini tidak bisa hanya bermodalkan cinta apalagi keindahan paras belaka. Namun, butuh banyak pengorbanan, saling pengertian, dan komunikasi yang lancar.

Beberapa waktu lalu sempat viral pasangan artis yang baru menikah, menampilkan keromantisan hubungan mereka. Sang istri mengunggah kalimat, “Yah, kangen.” Jawaban sang suami pun diunggah di media sosial. Obrolan mereka dikomentari oleh banyak warganet. Oke, bisa dimengerti, mungkin ini didramatisir demi konten dan terlihat so sweet atau “uwu-uwu” kata anak muda sekarang. Namun, komunikasi tidak bisa hanya terlihat manis di dunia maya. Karena bisa jadi di media sosial kita mengetik emoticon tertawa terbahak-bahak, sebenarnya cemberut.

Dalam rumah tangga komunikasi yang lancar sangat penting. Komunikasi yang baik akan menimbulkan pemahaman satu sama lain. Membangun komunikasi bisa dilakukan dengan banyak mengobrol dalam keluarga. Ada satu istilah yang cukup populer mengenai urusan mengobrol ini, yaitu Pillow Talk. Dinamakan demikian karena umumnya Pillow Talk dilakukan saat santai di tempat tidur. Dalam arti luas, bukan hanya lebih merekatkan ikatan batin pasangan, namun juga dengan anak-anak. Keluarga saya biasa berkumpul di kamar sambil menceritakan kejadian yang dialami hari itu. Sangat menyenangkan bisa mengobrol langsung tanpa saling melirik gadget masing-masing. Nabi Muhammad SAW juga telah mencontohkan, bahkan jauh-jauh hari sebelum dikenal Pillow Talk. Nabi biasa bercakap- cakap intens dengan istri beliau setiap malam sesudah salat Isya. Inilah kunci keharmonisan rumah tangga nabi yang mulia dan patut dicontoh umatnya.

Dengan suasana santai, hati dan pikiran akan terbuka sehingga memudahkan satu sama lain untuk saling mengungkapkan perasaan. Entah itu rencana sekolah untuk anak, tagihan listrik yang melonjak, atau bahkan hanya sesederhana obrolan tentang menu masakan esok pagi. Kadang seseorang bercerita bukan karena butuh solusi, tapi hanya ingin meluapkan emosi dan ingin didengarkan. Berbicara dari hati ke hati memang perlu seni, namun untuk menjadi pendengar yang baik, itu adalah seni tingkat tinggi.

Memiliki seseorang yang mau mendengarkan akan membuat pasangan nyaman. Pendengar yang baik  artinya benar-benar mendengarkan, tidak menyela atau terlalu banyak komentar, atau menampakkan kebosanan. Pasangan akan mudah mencurahkan apa pun kegelisahannya. Hal ini akan menimbulkan bonding yang kuat. Insyaallah ikatan batin yang kuat akan mampu menjadi senjata yang ampuh untuk menghadapi berbagai masalah di dalam keluarga.

Namun, adakalanya kesibukan menjadikan Pillow Talk ini sulit dilakukan. Apalagi untuk pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh. Bagi yang tinggal dalam satu rumah, obrolan tak selalu harus dilakukan malam menjelang tidur. Saat minum teh pagi hari. ketika berkebun bersama, atau yang paling sering dilakukan adalah obrolan sambil makan. Bagi mereka yang terhalang jarak, videocall sangatlah membantu. Yang utama adalah intensitas dan kualitas. Hindarilah bicara dengan nada tinggi, menghakimi, atau merendahkan satu sama lain.

Jadi, mari budayakan mengobrol dengan pasangan. Apalagi untuk masalah internal rumah tangga. Cerita pada teman? Percaya, deh, hanya 30% yang benar-benar peduli, sisanya hanya untuk bahan gosip. Yakinkan pada diri sendiri bahwa kedekatan dengan pasangan akan makin bertambah dengan saling mengetahui isi hati dan isi kepala masing-masing.

Foto: Freepik.com

4+
2 Shares:
2 comments
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Be Your Self
Read More

Be Your Self

Sering kali kita menemukan ada teman kita yang suka meniru gaya berpakaian, gaya berbicara, bahkan gaya hidup orang…