Menanti

menanti

pada malam yang basah

berpayung atap besi

lampu peron yang dingin

bangku-bangku kayu yang angkuh

menemaniku menatap rel yang terjulur

aku bergumam

rangkaian besi panjang tak juga bergetar

kertas bertuliskan jam dan bangku memburam

napasku memburu, resah

keretaku tak kunjung datang

 

Foto: Freepik.com

0
2 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Read More

Senja di Bontang Kuala

oleh: Fidi Partiwi. Foto: koleksi pribadi.   riak gelombang derit kayu besi menggoda langkahku seketika terkesimaku dibuatnya semburat…
Read More

Mencintai Aksara

oleh: Arin Tjitro   sendirimu sudah berarti,¬†bersama-samamu lebih bermakna merangkaimu dalam beragam frasa kadang lugas, kadang berirama mencintaimu…
Read More

Bola dan Hujan

tanah lapang tak lagi sepi sorak-sorai silih berganti bocah-bocah berlari ke sana ke mari mengejar bola plastik tak…
Read More

Di Satu Musim

oleh: Wulan Deli   hawa dingin menusuk kulit dari celah jendela yang menganga butiran putih berguguran ke bumi…
Read More

Takdir

ada sisa romansa dahulu ketika kau menjelma menjadi pujangga dan aku penikmat di mana riak air menjadi berwarna…
Read More

Mawar Merah

ada yang berbeda saat aku menatap keluar jendela merah merekah di antara rerimbunan berayun di antara daun berembun…