Kekuatan Kata pada Hypnotic Copywriting

hypnotic writing

Alhamdulillah saya diberikan kesempatan bisa mengikuti webinar Hypnotic Copywriting pada Sabtu, 15 Agustus 2020 lalu, yang nara sumbernya Kang Asep Herna, seorang yang memiliki ilmu yang mumpuni dalam hypnotic writing.  Banyak manfaat yang dapat dipetik, khususnya oleh saya yang baru memulai belajar menulis.

Apa itu Hypnotic Copywriting?

Mengutip apa yang disampaikan oleh Kang Asep Herna, bahwa hypnotic adalah state kesadaran di mana manusia sedang berada di dalam wilayah sugestif, yaitu wilayah subconscious (alam bawah sadar), sementara  copywriting adalah teknik penulisan naskah dengan gaya persuasif, yaitu membujuk audience untuk melakukan sesuatu.

Dengan demikian Hypnotic Copywriting adalah proses penulisan naskah dengan tujuan memengaruhi alam bawah sadar manusia, untuk melakukan tindakan sesuai pesan yang disampaikan.

Apa bedanya Hypnotic Copywriting dengan Copywriting biasa?

Bila copywriting biasa berusaha memengaruhi pikiran sadar manusia untuk bertindak (persuasif), maka Hypnotic Copywriting berusaha memengaruhi pikiran bawah sadar manusia untuk bertindak (sugestif).

Ketika manusia berada di dalam wilayah alam bawah sadar, daya kritisnya akan istirahat, sehingga data akan dengan mudah masuk ke alam bawah sadar manusia.  Jadilah data itu diterimanya sebagai sesuatu yang mutlak, nyata dan tidak dapat diragukan lagi.  Satu kenyataan  yang absolut. Kemudian data yang diterima itu dipraktekkan ke dalam bentuk tindakan manusia.

Bila misalnya data  itu berupa pesan  penjualan, maka yang menerima data itu akan langsung melakukan tindakan membeli.  Pesan akan diterima dengan sangat efektif bila masuk ke alam bawah sadar manusia. Oleh karena itu hypnotic state bisa dimanfaatkan untuk berbagai macam bidang, seperti: marketing, terapi penyakit, program parenting, menulis dan sebagainya.

Kang Asep Herna menganjurkan kepada para penulis untuk bijaksana  dalam mengelola hypnotic writing karena dapat mempengaruhi seseorang melakukan tindakan apa yang kita inginkan.

Suatu pesan akan sangat efektif sampai kepada audience dengan melalui pendekatan emosional, yaitu dengan menyentuh emosi audience.  Karena ternyata berdasarkan penelitian mengungkapkan bahwa komunikasi akan sangat efektif bila disampaikan  dengan apa yang kita rasa, dibandingkan dengan apa yang kita tahu.

Menurut Kang Asep Herna, pesan yang disampaikan melalui pendekatan emosional (apa yang kita rasa) kekuatannya akan mencapai 88%, sedangkan pesan yang disampaikan melalui pendekatan secara logika dan rasional (apa yang kita tahu) hanya akan mencapai 12%.  Mengapa bisa seperti itu?  Karena terkait dengan mekanisme pikiran manusia.

Mekanisme pikiran manusia terdiri dari conscious mind dan subconscious mind. Conscious mind sangat berhubungan dengan logika, rasionalitas, sistematik dan sangat hitam putih.  Hukum dan aturan-aturan termasuk  dalam conscious mind karena sifatnya sangat hitam putih, yaitu benar atau salah.  Sementara itu, subconscious mind  berhubungan dengan emosi, cinta kasih, spontanitas, irasional, spiritualitas, semua data adalah benar (absolut), gudang memori, dan sebagainya.

Pola Kekuatan Kata atau Bahasa

Ada beberapa karakteristik pola kata atau bahasa yang memiliki kekuatan hypnotic dan sangat powerful menggerakkan audience untuk bertindak sesuai dengan pesan yang kita inginkan, di antaranya adalah rima dan repetisi.  Penggunaan rima tidak hanya soal estetika tetapi juga membangun hubungan rasa yang kuat kepada audience, sedangkan repetisi di dalam kata, frase atau kalimat merupakan alat yang efektif untuk menghantarkan audience kepada alam bawah sadarnya.

Bila kita sedang menulis kemudian mengalami stuck atau writing block,  berarti kita sudah masuk ke ruang yang keliru, yaitu ke dalam ruang conscious mind.  Padahal proses kreativitas itu (menulis) adanya di wilayah subconscious mind yang di dalamnya ada imajinasi, kreativitas, perasaan, cinta kasih dan sebagainya.  Pada saat menulis seharusnya kita masuk ke ruang subconscious mind  dan membiarkan imajinasi kita bermain apa adanya di sana.  Jangan sampai pikiran kita dipengaruhi oleh conscious mind.

Lalu bagaimana agar kita bisa masuk ke dalam ruang yang benar (ruang subconscious) ketika akan menulis?

Ternyata hanya dengan niat atau self talk.  Kata-kata adalah realitas mental yang berhubungan dengan niat.  Segala sesuatu itu tergantung pada niat.  Ketika kita niatnya ke arah yang baik pasti niatnya ke arah yang baik pula.

Sebelum kita menulis, di dalam diri kita harus benar-benar dibersihkan dengan sebuah self talk dan niatkan hati kita untuk masuk ke ruang imajinasi yang berhubungan dengan proses kreativitas kita menulis.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah kita harus menata mind set, yaitu mind set untuk selalu meletakkan diri kita di ruang imajinasi ketika akan  menulis, sehingga tulisan kita tidak mengalami writing block. 

Foto: Freepik.com

 

2+
1 Shares:
1 comment
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like