Kue Dongkal yang Mulai Terlupakan

Kue Dongkal
Kue Dongkal

Tahukah sahabat, ada panganan tradisional khas dari Betawi yang bernama kue dongkal atau dodongkal? Mungkin banyak dari sahabat yang belum tahu, ya? Sebab, kue ini sudah sangat jarang kita temui.

Kue dongkal yang juga  disebut kue awug oleh orang Sunda ini, bisa kita temui di sekitar pinggiran Jakarta dan di sekitar perkampungan yang ditinggali oleh orang Betawi.

Kue dongkal   terbuat dari tepung beras yang dimasukkan ke dalam kukusan yang terbuat dari  bambu  berbentuk kerucut mirip seperti tumpeng. Adonan tepung beras tersebut di tata dan diselang-seling dengan taburan gula merah. Lalu di kukus di dalam dandang atau yang sering di sebut seeng, sampai matang. Kalau sudah matang, tampak gunungan putih dengan lumeran gula merah bergaris diantaranya. Kue dongkal disajikan dengan dialasi selembar daun pisang dan taburan kelapa parut. Kue dongkal bisa dinikmati sebagai teman minum teh atau kopi di sore hari bersama keluarga. Rasanya? Enak sekali.

Pembuatan kue dongkal sama seperti pembuatan kue putu. Bedanya, kue putu di masak dengan bambu yang di potong sepanjang 5 sentimeter dan kerap berwarna hijau dari daun suji. Sedangkan kue dongkal hanya berwarna putih dengan elemen coklat yang keluar dari gula merah yang mencair.

Kue dongkal dulu sering disajikan dalam acara-acara adat seperti acara melamar dan seserahan. Namun, saat ini kue dongkal hanya sebagai kue tradisional yang kerap di ditemui pada  jajanan pasar. Mungkin karena tidak bisa bertahan dalam arus tren kue kekinian.

Kalau sahabat menemui kue yang mirip sebuah gunung dengan lumeran gula merah, sudah tidak penasaran lagi, bukan? Yuk, kita lestarikan jajanan khas Betawi ini agar tidak hilang dan terlupakan.

 

Foto: Dokumen pribadi

 

0
3 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like