Apem, Kue Sederhana yang Sarat Makna

kue Apem
Kue Apem

Hai Sahabat Pena!

Kalian mungkin sudah biasa mendengar atau bahkan sudah sering makan  kue apem.  Kue ini merupakan penganan tradisional yang banyak dikenal di seluruh wilayah nusantara.  Meski namanya sama, namun acap kali berbeda daerah, berbeda pula jenis kue apemnya.  Ada kue apem yang terbuat dari tepung beras, dan ada pula kue apem yang dibuat dari tepung terigu, tapioka, maupun campuran beberapa jenis tepung.  Cara memasaknya pun berbeda-beda, ada yang dikukus dan ada pula yang dipanggang.

Yogyakarta memiliki kue apem yang dimasak dengan cara dipanggang.  Bentuknya sederhana, bundar  pipih dengan permukaan berhias warna kecoklatan khas hasil karamelisasi akibat proses pemanggangan.  Sekilas mirip serabi, tetapi tekturnya lebih padat.  Bahan baku utama kue apem Yogya adalah tepung beras. Penambahan kelapa parut, gula, telur, dan santan melengkapi kenikmatan rasa kue apem.

Awalnya, proses pembuatan adonan apem menggunakan tape sebagai pengembang.  Belakangan, penggunaan tape digantikan oleh ragi.  Adonan berupa tepung beras, gula pasir, dan air disiapkan sehari sebelumnya.  Santan, kelapa parut, ragi, dan telur baru dimasukkan beberapa jam sebelum adonan mulai dimasak.   Proses pemanggangannya menggunakan cetakan yang diletakkan di atas tungku arang.

Apem lekat dengan tradisi yang ada Keraton Yogyakarta.  Saat rangkaian acara Tingalan Jumeneng Dalem atau peringatan penobatan yang menandai kenaikan tahta Sultan, akan disiapkan kue apem ukuran besar (apem mustaka) dan apem kecil.  Pembuatan adonan (jladren) dilakukan pada tanggal 27 Rajab untuk kemudian dibuat menjadi apem pada keesokan harinya.  Laman kratonjogja.id menjelaskan bahwa konon kata apem berasal dari bahasa Arab yakni afwan yang berarti maaf atau ampun.  Hal ini menjadi simbol permohonan ampun kepada Sang Pencipta.   Apem yang dibuat nantinya akan dibagikan kepada keluarga dan abdi dalem keraton.

Tradisi lain yang juga mempergunakan apem adalah tradisi ruwahan.  Tradisi ini biasa diadakan menjelang bulan Ramadan.  Apem dalam ruwahan juga bermakna memohon maaf atau ampun.  Bersanding dengan ketan yang bermakna ngraketke iketan (merekatkan ikatan persaudaraan) dan kolak yang konon merujuk pada kata khalaqa, tiga penganan ini terasa lengkap saat disiapkan bersama-sama dan dibagi-bagikan kepada masyarakat sekitar.

Jika Sahabat Pena sedang berada di Yogya dan ingin menikmati langsung kue apem di tempat pembuatannya, coba kunjungi pasar Ngasem yang terletak tak jauh dari alun-alun selatan dan lokasi wisata Taman Sari.  Salah satu penjual kue apem terkenal di sana adalah apem bu Wanti.  Teh nasgitel , panas, legi (manis), kentel (kental), atau kopi hangat, menjadi teman yang cocok untuk menikmati apem beras Yogya di pagi hari.   Baru membayangkannya saja, sudah bikin pingin!  Yuk, liburan ke Yogya!

Foto: dok pribadi

1+
1 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like