Berita Hujan

Indah menatap ke langit lewat jendela di sebelah kiri mejanya. Langit mulai gelap seperti malam. Angin bertiup kencang membuat dahan-dahan pohon akasia bergoyang. Indah melihat  daun-daun dan bunga  berwarna kuningnya berguguran di tanah berumput. Sepertinya ramalan BMKG kali ini tepat. Hujan akan turun sore ini. Mungkin hujan akan bertahan hingga malam.

Indah mendesah. Ia harus bersiap kembali ke klinik tempatnya bekerja. Sepuluh menit lalu Suster Rini memberitahunya kalau pasien sudah berdatangan padahal jadwal prakteknya masih setengah jam lagi. Rasanya Indah masih ingin meneguk kopi dan sepotong donat lagi. Tapi apa daya ia tidak ingin terkurung di kafe dan tidak bisa ke klinik.

Indah memesan dua buah donat dan dua buah kopi. Ia berniat akan memberikan sebuah donat dan secangkir kopi untuk suster Rini. Setelah membayar di kasir, Indah melangkah ke tempat parkir dan menstarter mobil merahnya. Indah melaju di jalan yang mulai gerimis. Jarak dari kafe ke klinik memang tidak jauh.  Hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai di sana.

“Suster, tolong panggil pasien pertama.” Kata Indah sambil duduk di bangkunya.

“Siap, Dokter.”

Suster Rini membuka pintu klinik dan memanggil pasien pertama.

***

Sudah pukul sembilan lewat lima belas menit. Sudah malam. Akhirnya Indah bisa meneguk kopinya yang sudah dingin. Di luar hujan masih turun dengan deras.

“Selamat malam, Dokter.”

“Malam….” Senyum Indah menggantung. Ia terkejut melihat seorang laki-laki paruh baya masuk ke dalam ruang praktek dengan senyum dalam kerutan wajahnya.

“Pah.. apa kabar?” Indah bangkit dari duduk dan mencium tangan laki-laki tua yang pernah menjadi mertuanya tiga tahun lalu.

“Papah baik-baik saja, Nak Dokter.”

Bahkan mantan Papa mertuanya masih selalu memanggilnya dengan sebutan Nak Dokter kepadanya.

“Silakan duduk, Pah. Papah mau Indah cek tensinya?”

Laki-laki tua itu menggeleng. Indah tahu, laki-laki ini kemari hanya ingin meyakinkan kalau Indah baik-baik saja setelah bercerai dengan anaknya, Samuel.

“Sesak napas Papah bagaimana? Masih sering kambuh?”

Laki-laki itu menggeleng lemah.  Tangan rapuh itu mengambil kedua tangan Indah yang halus.

“Papah mau pamit, Nak Dokter.  Papah mau pergi. “

“Papa mau pergi dengan Mas Sam?”

Laki-laki itu menggeleng sambil menatapnya dengan mata abu-abunya.

“Maafin Papa, ya, Nak. Gara-gara Papa, Nak Dokter jadi begini.”

“Papa tidak pernah salah, Indahlah yang banyak berdosa sama Papa.”

Ya, mantan mertuanya memang tidak sengaja mendorong Indah hingga terjatuh dan keguguran. Namun Samuel menuduhnya telah dengan sengaja mengugurkan kandungannya. Dan akhirnya mereka bercerai.

Baru saja Indah ingin bertanya lagi, ponselnya sudah berteriak nyaring.

“Maaf, Pa, Indah angkat telepon dulum ya?” Pamit Indah lalu mengambil telepon dan menerimanya.

“Selamat malam, Mas.”

“Malam Indah. Papa.. Papa..” Suara Samuel terdengar panik.

“Papa Pergi lagi? Jangan khawatir, Mas, Papa cuma ke klinikku saja kok. ” Indah mengira Samuel mencari Papanya yang pergi ke klinik sendiri.

“Bukan. Papa tidak ke klinik, Ndah.  Papa meninggal terkena serangan jantung.”

Apa? Tidak mungkin. Baru saja Papa ada di depannya dan mereka berbincang-bincang. Indah menengok ke kursi pasien dan tidak didapatinya siapa-siapa di sana. Bahkan pintunya masih tertutup rapat. Airmatanya berderai di pipinya yang putih. Indah tidak kuasa untuk berbicara lagi. Ia menekan tanda off pada  ponselnya.

Innalillahi wainna illaihi rojiun, Selamat jalan, Pa, terimakasih karena telah menjaga Indah seperti Papa Indah sendiri, bisik Indah pelan.

***

Foto: Freepik.com

 

 

0
2 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Read More

Gas, Oh, Gas!

Hari menjelang siang, panas, dan terik. Setelah lelah dari pagi mengurus tumpukan cucian, melipat pakaian yang sudah kering…
Read More

Celengan

Suasana pagi hari yang tenang mendadak ramai bak pasar. “Yaaa… sepatuku mangap!” pekik Meli. Matanya melebar, ia menggigit…
Read More

Sesal

Langkahku gontai. Tahun ini aku gagal lagi lolos CPNS. Kuhempaskan saja ijazah masterku di jok belakang motor. Kuarahkan…
Read More

Alex

Pertama kali aku mengenal Alex adalah seminggu setelah kami sekeluarga pindah ke sebuah kampung di pinggiran Yogyakarta. Aku…
Read More

Kesempatan Kedua

“Huffhh….” Della mengembuskan napas sambil mendaratkan pantatnya ke kursi empuk. “Presentasi yang luar biasa.“ Tika ikut duduk di…
Read More

Topi Merah Tukang Sol

Jika rasa cemas memiliki wujud mungkin dia akan serupa dengan asap rokok. Pelan-pelan menyusup ke rongga hidung kemudian…