Kisah Minggu Pagi

Minggu pagi yang cerah, kala senyum sapa mentari memancarkan cahaya dari ufuk timur. Aku sedang menemani Bu Darmo duduk santai di teras rumahnya. Seperti biasa sambil menunggu ibu penjual ubi keliling, Bu Darmo tekun dengan hobinya. Gerakan tangan gemulai bak seorang penari, menjalin benang wol menjadi sebuah rajutan. Entah sedang membuat apa, mungkin taplak meja seperti yang sering dipamerkannya padaku. Sesaat berselang, aku mendengarnya berucap.

“Kamu sudah sarapan, Nduk?” Begitulah panggilan Bu Darmo padaku. Aku sudah dianggap seperti anak sendiri.

Aku diam saja, masih menikmati waktu santaiku. Aku tahu itu hanya basa basi. Bukankah tadi Bu Darmo yang menyiapkan sarapanku? Ah sudahlah, aku maklum usia sepuh memang kadang membuat manusia menjadi pikun.

“Kamu ditanya kok tidak menjawab,” tambah Bu Darmo.

Aku masih bergeming. Lambungku penuh, aku butuh istirahat. Bu Darmo akhirnya menyerah mengajakku bicara, dan kembali hanyut dengan rajutan di pangkuan. Gendang telinganya siaga, siap menangkap gelombang suara dari ibu penjual ubi keliling.

Sampai detik ini aku masih belum mengerti, kenapa Bu Darmo selalu menanti ibu penjual ubi keliling. Padahal banyak pedagang keliling lain yang melewati rumahnya. Aku sendiri lebih tertarik dengan pedagang ikan hias. Warna-warni ikan yang didominasi warna oranye, betul-betul menarik perhatianku. Ikan-ikan itu ditempatkan dalam plastik bening untuk memudahkan pembeli memilih. Pada saat dia berlalu, aku ingin sekali memanggilnya. Namun apa daya suaraku selalu terabaikan.

Nah itu dia, akhirnya yang ditunggu datang juga. Bu Darmo tampak berseri mendengar suara ibu penjual ubi. Aku ingat ada beberapa ibu penjual ubi yang sering lewat di depan rumah Bu Darmo. Gaya berpakaian mereka khas, berkebaya lusuh berpadu dengan jarit yang diikat sekenanya hingga ujung kain berada sedikit di atas mata kaki, sepertinya untuk memudahkan mereka berjalan. Cara mereka berjualan pun seragam, memanggul satu karung besar berisi ubi yang sudah dikemas perkilo dalam kantong-kantong plastik hitam. Usia mereka jauh lebih muda daripada Bu Darmo, namun kesulitan hidup tampak menggerus perbedaan usia itu.

Kadang tiga plastik, kadang sampai lima plastik Bu Darmo membeli ubi. Bahkan bila masih tampak berat isi karung mereka, akan diborong lebih banyak lagi. Mulanya aku heran, siapa yang akan memakan ubi sebanyak itu? Bukankah hanya aku yang menemaninya di rumah, dan sampai kapanpun aku tak akan pernah suka ubi. Terlalu manis menurutku. Setelah menunggu hingga sore hari, akhirnya aku mengerti. Bi Ipah, asisten rumah tangga Bu Darmo yang tinggal di belakang benteng perumahan, diminta untuk membawanya pulang. Bi Ipah dibekali beberapa kantong ubi untuk dibagikan kepada tetangganya. Sementara untuk Bu Darmo cukup satu kantong saja.

Ada satu kebiasaan Bu Darmo yang tak luput dari pantauanku. Saat membayar, Bu Darmo tidak pernah menawar harga satu rupiah pun, bahkan selalu memberikan uang lebih kepada ibu penjual ubi.

“Bu, ini ada kelebihan uang,” ujar seorang ibu penjual ubi waktu itu, sambil mengulurkan tangan untuk mengembalikan kelebihannya.

Bu Darmo tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Selanjutnya aku bisa melihat wajah bahagia dari keduanya, dan aku pastikan akan terdengar rentetan doa keselamatan, kesejahteraan dan panjang umur untuk Bu Darmo dari mulut ibu penjual ubi. Bu Darmo mengaminkan semua doa. Meski sepertinya Bu Darmo tidak mengharapkan itu. Doanya sendiri serta kesepuluh anak dan menantunya ditambah dua puluh cucu, tentu sudah lebih dari cukup untuknya. Aku tahu Bu Darmo hanya ingin melihat wajah bahagia mereka. Bu Darmo selalu bahagia melihat kebahagiaan lain di hadapannya. Menurutnya itulah hakikat berbagi rezeki. Aku sering mendengar ucapan itu disampaikannya berulang-ulang kepada anak, menantu dan cucu-cucunya.

Namun sayang, Minggu pagi ini ada yang berbeda. Tidak ada wajah bahagia. Aku hanya menangkap guratan kecewa di wajah Bu Darmo dan ekspresi tegang ibu penjual ubi. Setelah memastikan jumlah uang dari Bu Darmo yang berada dalam genggamannya, dia cepat menutup kembali. Ibu penjual ubi tidak berupaya untuk mengembalikan kelebihan uang, malah tergesa membereskan barang dagangannya. Mungkin dia pikir ada kesalahan hitung, dan khawatir Bu Darmo akan menyadari kelalaiannya.

Bu Darmo tampak gelisah melihat tingkah ibu penjual ubi yang baru kali ini tidak jujur padanya. Sepertinya ibu yang satu ini adalah orang baru yang belum mengenal Bu Darmo. Melihat situasi yang demikian, aku merasa harus melakukan sesuatu. Aku segera mendekati ibu penjual ubi dan menatap tajam pada genggaman tangannya. Aku mengeram, tulang belakangku melengkung, cakar-cakar pada keempat kakiku mulai keluar, bulu di sekujur tubuhku mengembang sempurna. Hormon bertarung mengalir deras. Aku bergerak, berusaha mencakar tangannya yang menggenggam uang pemberian Bu Darmo. Dia tersentak dan berusaha mengelak. Namun aku tak menyerah. Kembali cakarku beraksi. Ah dia terluka. Ibu penjual ubi refleks mengayunkan tangannya dan berusaha memukulku. Untung aku sempat bergerak cepat ke samping. Ayunannya meleset malah mengenai kolom teras. Beberapa lembar uang terlepas dari genggamannya. Dia mendengus kesal memandang ke arahku. Aku mundur menjauh, perlahan kembali ke lantai teras tepat di sebelah kursi yang diduduki Bu Darmo. Tugasku sudah selesai.

“Oh maaf Bu, ternyata uangnya kelebihan,” ucapnya sambil memungut lembaran uang yang berserakan dan menyerahkan kelebihannya kepada Bu Darmo. Dia menunduk, mungkin rasa malu dan kecewa melebur di benaknya. Kulihat sekilas Bu Darmo diam terpaku, sepertinya kagum dengan aksi heroikku tadi.

“Ambil saja, semoga bermanfaat.” Kudengar suara lirih Bu Darmo.

Begitulah, akhirnya Minggu pagi kembali dihiasi wajah bahagia, dan dalam hitungan detik aku mendengar rangkaian doa mengalir untuk pemilikku, Bu Darmo.

***

Foto: Freepik.com

0
1 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Read More

Antar Anak?

Bu Ira menengok ke kanan dan ke kiri. Sesekali matanya melihat jam yang ada di tangannya.  Waktu sudah…
Read More

Lupa

Sarah uring-uringan seharian ini. Senyum manisnya tak merekah seperti biasanya. Semua sahabat-sahabatnya dari zaman putih merah sampai zaman…
Read More

Pertemuan

Hari masih pagi ketika Della tiba di gedung olahraga. Hari ini  Rifky, keponakannya,  bertanding taekwondo. Sebagai tante yang…
Read More

Tarung

Pandu menatap seorang perempuan dan dua laki-laki di depannya dengan tatapan dingin. Tombaknya yang panjang di ulurkan kedepan.…
Read More

First Love

  Dalam pekat malam, Rina terhenyak. Terdengar aneh di telinganya, deretan kata yang meluncur dari mulut Ray, sahabatnya.…