November Rain

Pagi sudah meninggi, namun langit masih gelap. Mendung menyelimuti kota Jakarta sejak subuh. Hujan deras sepertinya akan tumpah sebentar lagi. Musim penghujan memang sudah  datang. Winda menatap ke luar jendela kamar dengan resah.

Mengapa harus hujan hari ini? Padahal hari ini adalah hari yang aku tunggu sejak beberapa hari yang lalu. Mengapa hujan tidak turun kemarin atau besok saja? keluhnya dalam hati. Sepertinya  makan siang bersama Renold akan menjadi mimpinya di siang bolong.

“Winda, sudah mau hujan, kau tidak berangkat kerja?” suara Mama terdengar dari luar kamar.

“Ya, Ma, Winda sudah siap, kok.”

Winda mematikan AC dan lampu, lalu keluar kamar.

“Nih, kotak sarapannya sudah Mama siapkan. Mama tahu kau pasti tidak sempat sarapan di rumah.” Mama menyerahkan tas berisi kotak makanan.

Winda menerimanya dengan tersenyum kecil. Tidak mungkin ia menolak dan membuat Mama kecewa.

“Winda berangkat ya, Ma. Assalammualaikum.” Winda mencium tangan Mama.

“Waalaikumsalam. Hati-hati naik motornya, ya. Jangan lupa pakai jas hujanmu.”

“Ya, Ma.”

Winda bergegas ke teras dan mengenakan jas hujan lalu mengendarai motornya membelah jalan di Jakarta yang mulai padat. Jarak rumah Winda ke kantor cukup jauh. Untungnya Winda menggunakan motor, sehingga ia bisa dengan leluasa berjalan di antara mobil-mobil yang terjebak macet.

***

Winda terdesak ke belakang ketika ada tiga orang ikut naik ke dalam lift yang sudah berisi lima orang. Winda sudah berjuang untuk tidak menempel ke dinding besi karena seorang ibu bertubuh gemuk tidak mau berdiri lebih maju. Untuk sesaat Winda tersiksa. Untungnya tiga menit kemudian, lift tiba di tempat ia harus turun.

“Permisi, Bu, saya mau turun.”

Perempuan itu bergerak memberikan sedikit ruang untuk Winda keluar. Winda keluar lift dengan susah payah karena ternyata di depan ibu yang bertubuh besar ada dua orang laki-laki berjas yang nampak seperti seorang pemilik jabatan di salah satu kantor di gedung ini, tengah mengobrol dengan serius.

Satu kaki Winda sudah berhasil keluar, namun satu lagi masih terhimpit di antara kaki ibu berbadan besar dan laki-laki di depannya. Karena kehilangan keseimbangan, Winda jatuh tertungkup di luar lift. Kotak makannya pun jatuh dan isinya berhamburan di lantai. Tubuhnya memang sakit karena terjatuh ke lantai. Namun, lebih besar rasa malu karena ia terjatuh dengan bunyi berdebam. Beberapa orang yang berdiri di luar lift memandangnya sambil menahan senyum.

“Mari saya bantu berdiri.”

Tiba-tiba ada sebuah tangan yang disodorkan di depan hidung Winda. Winda menoleh ke arah pemilik lengan yang terbungkus jas hitam.

“Pak Fadhil.”

Ya, Winda tahu nama laki-laki muda itu  Fadhil, anak dari CEO di lantai dua puluh. Winda memberikan tangannya yang langsung ditangkap tangan kokoh Fadhil. Laki-laki itu membantunya berdiri.

“Maaf, gara-gara saya, kamu jadi jatuh. Makanan kamu pun jadi berantakan.”

Winda hanya mengangguk pelan. Winda melihat Fadhil memanggil seorang OB untuk membersihkan nasi goreng yang berantakan di lantai. Orang-orang yang tadi menertawainya jatuh, berangsur menghilang.

“Ada yang sakit?”

“Sedikit. It’s oke.”

“Kita ke poli klinik dulu untuk mengecek keadaanmu.”

“Tidak usah, Pak. Terimakasih. Nanti saya obati sendiri memarnya.”

“Sungguh? Oke, kalau begitu. Saya harus buru-buru ke ruang meeting. Untuk bekal sarapanmu, nanti saya ganti.”

“Terimakasih, Pak.”

“Sama-sama… Winda.”

Laki-laki itu sudah menghilang kembali ke dalam bilik besi yang membawanya ke lantai dua puluh. Winda terkesima sejenak. Pak Fadhil mengetahui namaku? Apakah Pak Fadhil juga tahu kalau  diam-diam ia sering menunggunya di lobi agar naik lift bersamanya? Wajahnya memerah seketika. Dengan segera ia masuk ke dalam kantornya.

***

Winda baru saja kembali dari toilet ketika dilihatnya Hana mengayunkan sebuah bungkusan di depannya.

“Apa itu, Na?”

“Kasih tahu nggak, yaa..?” Hana mengikik sendiri.

“Apa sih itu?” tanya Winda sambil duduk di kursinya.

“Kata OB, dari Pak Fadhil yang ganteng ituu..” Hana memoyongkan bibirnya sambil memberikan bungkusan warna putih itu ke Winda.

Winda langsung membukanya. Sekotak Nasi goreng ayam plus telur mata sapi di atasnya. Jadi, Pak Fadhil  benar-benar memberikan ganti bekal nasi gorengnya yang jatuh, sesuai dengan janjinya.

            “Alhamdulillah, rezeki anak salehah.”

Winda melihat ada secarik kertas yang ditempel di kotaknya.

 

Selamat makan, Winda. Semoga cacing di perutmu tidak berdemo masal. 

            Lain kali kita sarapan bersama tanpa ada tragedi kamu jatuh, ya.

            Fd

 

Wajah Winda sumringah seketika. Tanpa menunggu lama, Winda langsung mengambil sendok plastik yang terdapat di dalam bungkusan itu dan menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.

“Sebenarnya kenapa Pak Fadhil tiba-tiba memberikanmu nasi goreng, Win?”

Winda tidak menjawab, ia malah asyik memakan nasi goreng dengan lahap. Cacing-cacing di perutnya sudah menabuh genderang perang sedari pagi.

Tut..tttuuttt..

Ponselnya bergetar menandakan ada pesan masuk. Winda membuka pesan. Dari Renold.

Winda, Sepertinya hujan akan terus bertahan seharian. Sorry, kalau janji hari ini harus batal. Lain kali  aku akan mengajakmu makan di kafe yang aku janjikan, oke.

Winda tidak menjawab pesan tersebut. Ia semakin asyik dengan nasi gorengnya.

***

Foto: Freepik.com

0
2 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Read More

Sesal

Langkahku gontai. Tahun ini aku gagal lagi lolos CPNS. Kuhempaskan saja ijazah masterku di jok belakang motor. Kuarahkan…
Read More

Getaran dalam Saku

Apa kabar, Dea? Sebuah pesan Whatsapp mengubah suasana hari ini. Aku tidak bisa langsung menjawab. Perlu beberapa kali…
Read More

Rumput Liar

Oleh Ibuw Sansris   Cinta segitiga itu rumit. Serumit politik di Indonesia? “Serumit matkul Pak Siagian. Huh!” gerutu…
Read More

Kerudung Pagi

Done! Freya memandang puas pada tumpukan baju seragam sekolah Chika, putri sulungnya, yang baru dia rapikan. Pas waktunya,…
Read More

Asumsi

Sore itu, ditemani sinar mentari yang menyusup malu melalui jendela, aku membiarkan diri larut dalam zikir. Mungkin sudah…