Bistik dan Selat Solo, Akulturasi Kuliner Belanda dan Jawa

Sahabat Pena, kota Solo atau Surakarta adalah kota yang terkenal dengan aneka hidangan kuliner lezat. Kota yang dahulu menjadi satu wilayah dengan Yogyakarta ini memiliki nasi liwet, tengkleng solo, timlo, selat, dan bistik solo sebagai makanan khas. Kali ini, berhubungan dengan musim penghujan yang mulai menghiasi hari-hari kita, yuk, cari tahu lebih banyak tentang makanan berkuah yang khas dari kota Solo yaitu bistik dan selat.
Bistik adalah hidangan berbahan dasar daging sapi. Nama bistik diduga berasal dari cara pengucapan masyarakat Jawa terhadap makanan Belanda bernama Biefstuk atau beef steak dalam Bahasa Inggris. Berbagai jenis resep masakan Belanda mulai banyak dipelajari oleh pribumi ketika masa kejayaan VOC berakhir sekitar tahun 1799. Saat itu merupakan fase penting bagi perubahan sosial dan budaya di Indonesia dengan munculnya kekuasaan politik Hindia Belanda (Pax Neerlandica). Wanita-wanita pribumi dipekerjakan sebagai “nyai” di rumah-rumah para pejabat Belanda atau bahkan ada yang menjadi istri. Maka dari sinilah muncul bermacam hidangan selain biefstuk, yakni soep, yang saat ini kita kenal sebagai sup atau sayur sop. Frijkadeler, makanan kentang tumbuk yang kini lebih terkenal sebagai perkedel kentang. Smoor yang berkembang menjadi semur, spekkoek alias kue lapis legit dan beraneka ragam hidangan lainnya yang merupakan akulturasi kuliner Belanda dengan Jawa.
Bistik sendiri sering disamakan dengan selat Solo. Padahal mereka berbeda. Jika bistik adalah masakan daging yang berbumbu kecoklatan dengan citarasa manis gurih, maka selat Solo merupakan perpaduan daging bistik dengan aneka sayuran, telur ayam, saus mustard dan kuah segar yang sedang saja kekentalannya.
Selat Solo semula dikenal sebagai hidangan darah biru karena disajikan dalam acara-acara kerajaan yang pada masa itu masih terpengaruh dengan kekuasaan Hindia Belanda, termasuk hidangan-hidangan dalam pestanya. Kaum ningrat terdidik di kota Solo yang diperkenalkan dengan makanan Eropa berupa daging yang dimasak setengah matang dalam steak, tidak begitu saja bisa menerima dengan “lidah Jawa”nya. Maka dalam perkembangannya, daging steak dimasak dengan bumbu lebih manis ala empal Jawa. Kata “selat” diyakini berawal dari “salad”, sayuran segar yang disajikan dengan saus. Oleh karena itu, dalam selat Solo terdapat selada segar, wortel rebus, kentang rebus, mentimun, dan tomat. Pelengkapnya adalah telur pindang coklat, saos mustard dan keripik kentang. Penyajiannya disempurnakan dengan guyuran kuah coklat berasa asam manis nan segar.
Bagi penyuka hidangan sepinggan, selat Solo sangat cocok. Makanan ini mengandung banyak nutrisi dari sayuran dan protein dari daging dan telur. Komplet gizinya. Jika sempat singgah ke Solo, cobalah Warung Selat Mbak Lies di Serengan. Di Yogya, selat Solo bisa ditemukan di Toko Roti Trubus atau Resto Omah Semar. Untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya, selat Solo disajikan di Dapur Solo, Matraman, dan Waroeng Solo di Kemang, Jakarta Selatan.

Foto: Dok pribadi

2+
1 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like