Kebun Tebu Pak Jumali

Bobby menggenjot pedal sepeda dengan sekuat tenaga. Ia ingin cepat sampai di rumah. Kebun tebu milik Pak Jumali yang luas telah membuatnya ketakutan. Baru saja ia mendengar suara-suara yang mengerikan ketika  melewatinya.

“Kalian mendengar sesuatu?” tanya Bobby kepada ketiga temannya yang berada di depannya.

Posisi saat ini adalah Andri dan Pras berada di depan, di belakang mereka ada Rio, dan di paling belakang adalah Bobby. Seperti biasa setiap minggu pagi ia dan tiga temannya selalu besepeda berrsama menyusuri kampung sebelah hingga ke kebun tebu.

“Iya. Tapi itu tadi apa ya?”

Gusrak… gusrak!

Belum lagi pertanyaan Rio terjawab, suara itu semakin nyaring terdengar didekat mereka. Rumpun tebu di bagian dalam hingga kearah jalan, rubuh.

“Kabuurr…!”

Bobby dan ketiga temannya langsung berpencar pulang ke rumah. Padahal untuk laki-laki berumur dua puluh tujuh tahun, seharusnya mereka tidak sepenakut itu. Namun kepanikan membuat ke empatnya segera meninggalkan tempat itu.

***

               Sejak setahun lalu, Bobby tinggal di desa kecil itu. Ia harus mengabdi di desa terpencil, setelah ia diwisuda menjadi seorang dokter. Mulanya Bobby merasa kurang senang dengan suasana sepi di desa. Tetapi seiring berjalannya waktu, ia mulai betah. Apalagi setelah memiliki teman seperti Andra, Rio, dan Pras. Walaupun usia mereka nyaris sama, tapi mereka berbeda tingkat pendidikan dan profesi. Andra seorang lulusan D3 Manajemen, memilih menjadi guru honorer.  Rio lulusan SMA, menjadi pedagang di pasar. Sedangkan Pras, lulusan Sarjana Hukum, memilih menjadi petani dan peternak kambing ketimbang ikut kakaknya bekerja di kota.

Pertemuan keempatnya  tidak di sengaja. Namun ketidak sengajaan itu membuat mereka menjadi dekat. Saat itu Andra terluka karena terjatuh dari sepedanya akibat  terserempet motor Rio. Sebenarnya bukan mutlak salah Rio, karena ia  menghindari seekor kambing milik Pras yang tiba-tiba melintas di depannya. Saking terkejutnya, Pras membanting setir motor ke kiri hingga menyerempet Andra. Rio dan Pras yang merasa bersalah, langsung membawa Andra ke Puskesmas tempat Bobby praktek.

Dari pertemuan yang tidak di sengaja itu, mereka akhirnya berteman karena obrolan mereka nyambung.  Mereka juga sering berkumpul di warung Pak Mardi untuk sekedar minum kopi. Dari ngobrol ngalor-ngidul itulah mereka merencanakan untuk bersepeda setiap minggu pagi.  Tentunya bukan tanpa alasan mereka melakukan perjalanan itu, tapi dengan misi tertentu.  Bobby ingin menyapa warga desa dan mengingatkan untuk selalu menjaga kesehatan, serta tidak usah takut untuk pergi ke Puskesmas untuk berobat. Andra menyambangi murid-muridnya dan memberikan mereka bimbingan belajar secara gratis. Rio mempromosikan dagangannya  dan dapat dibayar melalui kredit tanpa bunga mencekik. Sedangkan Pras memberikan sosialisasi beternak dan memilih bibit unggul untuk tanaman warga.  Mereka berempat ingin pertemanan itu  bermanfaat.

Sudah hampir delapan minggu mereka melakukan perjalangan itu dan selalu mendapatkan sambutan yang baik dari warga setempat. Itu yang membuat mereka senang karena misi tercapai. Pak Kades pun menyambut baik kegiatan mereka, karena anak-anak muda itu ikut membantu membangun desa.

***

               Malamnya, mereka berkumpul di warung Pak Mardi. Seperti biasa mereka memesan kopi hitam dan pisang goreng. Selagi mereka tengah mengevaluasi hasil perjalanan hari itu, seorang bapak tua datang dan langsung duduk di sebelah Rio. Ia memesan kopi hitam. Bapak tua itu mengangguk hormat pada Bobby yang di kenal warga sebagai dokter yang ramah. Bobby membalas dengan anggukan disertai senyum tipisnya.

“Mar, tadi siang ada kejadian lagi di kebun tebu Pak Jumali.”

“Ada kebun yang rusak lagi, Mbah?” tanya Pak Mardi seraya memberikan segelas kopi hitam.

“Lebih tepatnya, dirusak, Mar.” ujar pak tua yang di panggil Simbah itu. Tampaknya Simbah dan Pak Mardi sudah sangat akrab hingga saling memanggil nama.

“Kok jadi mengerikan seperti itu, ya, Mbah? Kampung kita jadi tidak aman.”

“Tapi kita tidak usah takut, Mar. Lha wong yang dirusak hanya kebun tebunya Pak Jumali. Kebun yang lain masih baik-baik saja.”

Simbah menyeruput kopinya. Bobby, Rio, Andra dan Pras terdiam. Mereka mendengarkan Simbah berbincang, karena sebenarnya mereka pun ingin tahu dengan kejadian di kebun tebu Pak Jumali.

“Sebenarnya, apa yang membuat kebun Pak Jumali dirusak orang, Mbah?”

“Pak Jumali masih tetap tidak mau menjual kebun tebunya ke  Witno, adiknya.  Kalau dia mau, pastinya nggak akan begini. Tapi memang Witno itu rakus, ia ingin semua harta orang tuanya jatuh ke tangannya. Makanya ia berulah seperti itu.”

Tidak terdengar jawaban dari Pak Mardi. Tapi wajahnya terlihat tegang.

Oalah, ini tentang perebutan harta warisan, kata hati Bobby. Kalau begitu ia dan teman-temannya tidak boleh ikut campur.  Bobby dan Rio berpandang-pandangan. Mereka merasa tidak perlu mendengarkan pembicaraan itu lebih lanjut. Tanpa komando, mereka berempat berdiri untuk pindah duduk ke teras warung.  Begitu mereka menghenyakkan tubuh mereka di bale bambu, mereka mendengar suara sirine polisi dari kejauhan.

“Tuh, Polisi sudah menangkap si Witno,” kata Simbah sambil menyeruput kopinya.

Sementara Pak Mardi berlari ke arah rumahnya di seberang kali sambil menahan airmata.  Ia mengkhawatirkan nasib anaknya yang bakal ditinggal suaminya di penjara.

Foto: Freepik.com

0
2 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Read More

Pertemuan

Hari masih pagi ketika Della tiba di gedung olahraga. Hari ini  Rifky, keponakannya,  bertanding taekwondo. Sebagai tante yang…
Read More

Dinner

Amanda sibuk memotong dan mencuci sayuran. Malam ini ia ingin membuat diner untuk suaminya, Igun. Hari ini adalah…
Read More

Cinta yang Lain

Brukk! Suara keras itu datangnya di dekat kaki Kania. Kania membuka matanya dengan malas. Mencari tahu apa yang…
Read More

Topi Merah Tukang Sol

Jika rasa cemas memiliki wujud mungkin dia akan serupa dengan asap rokok. Pelan-pelan menyusup ke rongga hidung kemudian…
Read More

First Love

  Dalam pekat malam, Rina terhenyak. Terdengar aneh di telinganya, deretan kata yang meluncur dari mulut Ray, sahabatnya.…