Pada Hari itu

Pada Hari itu
Foto: Freepik.com

Koper berwarna biru bergambar menara Eiffel itu ditarik oleh Safira dengan gembira ke luar kamar. Hari ini  ia akan pergi ke Bali bersama teman-temannya, Nara dan Devina. Setelah merayu Mas Rivai selama seminggu, akhirnya izin jalan-jalannya keluar. Ia akan menghabiskan waktu tiga hari tiga malam di Bali. Semua tempat pariwisata yang sedang ngehit akan mereka datangi. Dari GWK, Ubud, Uluwatu hingga makan seafood di Jimbaran. Dan tak lupa mereka akan membeli oleh-oleh di pasar Sukowati dan beberapa outlet yang telah direkomendasikan oleh Leina, teman mereka yang hobi traveling.

“Sayang, kau harus sarapan dulu sebelum berangkat. Jangan sampai sakit maghmu kambuh di sana. Bisa-bisa kau tidak bisa menikmati liburanmu,” kata Mas Rivai dari meja makan.

“Ya, sayang.”

Safira menaruh kopernya di ruang tamu, lalu melangkah ke ruang tamu untuk  sarapan berdua suaminya.

“Aku sengaja masak nasi goreng spesial kesukaanmu. Jadi selama di Bali nanti kau akan teringat dengan aku terus. Biar kau tak lupa pulang.” Rivai menyendokkan nasi goreng dan telur ceplok ke piring Safira.

“Uhh.. so sweet banget sih suamiku. I love you, honey.

Safira mengecup pipi Rivai manja. Ini yang disukai Rivai pada Safira. Istrinya ini selalu bisa bermanja-manja dan membuat Rivai merasa menjadi laki-laki yang beruntung mendapatkan Safira yang cantik. Walaupun sudah tiga tahun menikah dan belum di karuniai buah hati, Safira tetap memperlakukan Rivai seperti saat pengantin baru. Selalu mesra.

I love you, too, babe.” Rivai mengerlingkan matanya.

Safira meyuapkan nasi goreng ke mulutnya. Benar kata suaminya, nasi goreng buatannya memang enak.

“Enak, Mas.” Safira memberikan jempolnya ke arah Rivai.

“Sengaja aku buat biar istriku nggak ke pincut sama bule-bule di Bali.”

Safira tergelak.

“Kau ini suka asal, Mas. Masa’ aku bisa kepincut sama bule? Aku kan sudah punya suami yang baik dan setia, buat apa nyari bule?”

“Siapa tahu saja kau khilaf di sana.”

“Mas.. sudah, deh, nggak usah punya pikiran yang aneh-aneh. Aku cuma liburan sama temen-temen perempuanku. Nggak ada selintas di pikiranku untuk selingkuh dari kamu.”

“Masa’?”

“Mas….” Safira mencubit perut Rivai dengan gemas. Rivai tertawa senang kaena telah berhasil menggoda istrinya.

***

Safira berjalan  di pantai Kuta dengan kaki telanjang. Sandal jepitnya ditenteng di tangan kirinya. Sementara tangan kanannya sibuk membetulkan hijabnya yang tertiup angin. Ia memilih menikmati sore di  pantai ketimbang di kamar hotel. Kedua temannya telah pergi ke kafe bersama teman-teman bulenya yang baru di kenalnya di Bandara siang tadi. Ya, Safira tidak bisa menyalahkan teman-temannya yang masih jomblo untuk tidak kepincut dengan bule ganteng asal Autralia itu. Apalagi kedua temannya itu sudah meminta maaf padanya karena harus meninggalkan Safira sendirian di hotel. Ia tidak marah, meskipun acara liburan bersama mereka menjadi berantakan.

Sudah dua jam ia bermain-main dengan ombak dan pasir putihnya. Safira ikut berlari seperti turis-turis yang lain,  ketika ombak berusaha mengejar dirinya dan membasahi ujung bajunya.  Ia pun terpekik  ketika  ombak berhasil menyemburkan air asinnya ke bajunya hingga ke betis. Bajunya basah. Namun ia merasa senang. Walaupun ia merasa ada yang hilang dari dirinya. Ya, andai suaminya ada di sini, pasti ia akan merasa lebih bahagia.

Safira menatap matahari yang bulat kekuningan di ujung samudra. Sudah nyaris Isya, namun matahari belum juga terbenam. Musim panas seperti ini, pemandangan seperti itu memang sudah biasa terjadi. Untungnya tadi ia sempat menumpang ke sebuah hotel untuk salat Magrib di musala.

Safira mengambil ponselnya dari tas selempangnya lalu mulai selfie dengan background sunset yang indah. Setelah mengambil beberapa foto dengan berbagai gaya, Safira mengirimkan sebuah fotonya ke ponsel suaminya. Tak lupa ia menuliskan kata-kata di bawahnya.

Andai saja aku bisa menikmati indahnya sunset di Kuta bersamamu, pasti aku akan bahagia sekali.

Lalu Safira menekan tanda kirim. Tidak berapa lama kemudian Safira menerima balasan dari pesannya tadi.

Berapa besar keinginanmu aku menemanimu di sana?

Terlalu besar hingga tidak dapat kugambarkan. Karena keinginanku lebih besar dari bukit dan gunung.

Kalau begitu, balikkan badanmu. Aku menunggu pelukan istriku.

Safira mengerjapkan matanya membaca pesan dari suaminya. Apakah mungkin Mas Rivai ada di sini? Bukankah dia ada di Jakarta?  Safira berbalik dengan pelan. Ia takut hanya dikerjai oleh suaminya.  Namun ia salah. Lima langkah di belakangnya, Safira melihat Rivai membuka kedua tangannya menunggu Safira berlari ke arahnya.

Safira berlari ke pelukan Rivai. Ia tidak menyangka kalau suaminya ikut terbang ke Bali.  “Kok kau ada di sini, Mas?”

“Sudah aku bilang, aku nggak mau  istriku di ambil bule-bule di sini.”

Airmata Safira  berlinang. Ia memang sangat menginginkan suaminya itu ada di sini saat ini.

“Cup.. cup..cup… nggak usah nangis dong.”

Rivai menghapus airmata di pipi Safira, lalu mengecup keningnya.

“Selamat ulang tahun pernikahan yang ketiga, sayang.”

Safira tertegun sejenak. Ulang tahun pernikahan? Apakah aku sudah melupakan tanggal pernikahan mereka?

“Terimakasih, honey, maaf, aku lupa.” Safira tersenyum malu.

It’s oke, babe. Nggak usah kau pikirkan. Yang penting kita tetap selalu punya cinta.”

Safira tersenyum. Suaminya ini selalu punya maaf untuk dirinya.

I love you, honey. Much..much.. love.” Safira mencium punggung tangan Rivai lalu mencium pipinya.

“Kita honeymoon, yuk?”

Safira mentap suaminya dengan wajah tak percaya. Honeymoon?

“Bagaimana dengan teman-temanku?”

“Biarkan saja mereka bahagia dengan teman-teman barunya. Aku kangen istriku.”

Safira mencubit pinggang Rivai dengan manja.

“Iihh.. genit.”

Foto: Freepik.com

 

4+
2 Shares:
5 comments
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Read More

Gas, Oh, Gas!

Hari menjelang siang, panas, dan terik. Setelah lelah dari pagi mengurus tumpukan cucian, melipat pakaian yang sudah kering…
Read More

Seperti Petir

Menurut kabar yang beredar, memang yang namanya Bu Sus itu pelit. Kata yang lain, orangnya tidak pernah mau…
Read More

Alex

Pertama kali aku mengenal Alex adalah seminggu setelah kami sekeluarga pindah ke sebuah kampung di pinggiran Yogyakarta. Aku…
Read More

Kesempatan Kedua

“Huffhh….” Della mengembuskan napas sambil mendaratkan pantatnya ke kursi empuk. “Presentasi yang luar biasa.“ Tika ikut duduk di…
Read More

Ada Sesuatu

“Kriiiing… kriiing… kriiing…” Bel tanda istirahat berbunyi. “Alhamdulillah …” Dihya menghela napas  panjang. Rupanya pelajaran fisika telah menguras…
Read More

Asumsi

Sore itu, ditemani sinar mentari yang menyusup malu melalui jendela, aku membiarkan diri larut dalam zikir. Mungkin sudah…