Pesan di HP Suamiku

Gambar: Freepik.com

Lagi-lagi perasaan tidak nyaman itu muncul. Sejak aku melihat sikap Mas Adi jadi terburu-buru membuka hpnya karena ada pesan masuk, aku dihinggapi rasa tidak nyaman. Mungkin sekitar satu bulan sudah sikap Mas Adi seperti itu. Mas Adi juga akan terlihat sibuk mengetik seperti membalas pesan-pesan yang masuk itu. Cukup sering menurutku pesan-pesan masuk ke HP Mas Adi yang sebelumnya jarang. Bahkan, Mas Adi seolah menutupinya dariku. Pernah juga Mas Adi kedapatan olehku sedang senyam-senyum sendiri.

Aku bukanlah seorang istri yang ingin tahu semua urusan suaminya. Namun, menurutku sikap Mas Adi belakangan ini, cukup membuatku curiga dan bertanya-tanya. Hanya saja, aku lebih suka mengamati dan mencoba memahami situasi terlebih dahulu sebelum kemudian bertanya.

Sore itu aku memberanikan diri bertanya ke Mas Adi saat melihatnya dengan sigap membuka hp yang baru saja berbunyi menandakan ada pesan masuk. Padahal, biasanya aku hanya bisa berdiam diri sambil memperhatikan sikapnya.

“Pesan dari siapa, Mas?”

Tanpa menoleh Mas Adi menjawab kalau pesan itu dari temannya.

“Siapa nama temannya, Mas?” Aku tidak mau begitu saja menerima jawabannya yang singkat itu, apalagi dijawab tanpa menoleh sedikitpun. Aku yang sudah lama memendam pertanyaan pada Mas Adi, mulai curiga dan merasa kesal karena sikapnya yang janggal.

“Kamu nggak kenal, Shin,” jawab Mas Adi tanpa rasa bersalah dan tetap menatap layar HP-nya.

Dasar pria. Memangnya aku harus kenal dulu sama temannya itu, baru Mas Adi akan memberitahuku? Padahal, hampir semua teman Mas Adi aku sudah kenal. Teman-teman SMA-nya apalagi. Setiap tiga bulan sekali mereka membuat acara kumpul-kumpul dengan mengajak anggota keluarganya masing-masing.

“Justru itu, Mas, karena Shindynggak kenal, makanya Mas kasih tau dong namanya, biar Shindy jadi kenal. Lagipula, rasanya Shindy sudah kenal kok semua temen Mas.” Aku berkata dengan cepat dengan nada kesal. Aku mulai kehilangan kontrol.

Mas Adi baru menoleh dan menaruh perhatian pada ucapanku.

“Kok kamu bicara seperti itu, Shindy? Kamu curiga?” tanya Mas Adi.

Aku terdiam dan beradu tatap dengan Mas Adi. Terasa gemuruh di dadaku karena menahan kekesalan atas sikap Mas Adi yang mebuatku curiga belakangan ini. Mataku terasa panas dan pandanganku mulai kabur karena membendung air mata yang segera tumpah.

Mas Adi terkejut begitu memandangku yang penuh dengan emosi seperti itu. Raut wajah Mas Adi langsung menghangat. Mas Adi meletakkan hpnya begitu saja dan menghampiriku sambil membuka kedua tangannya untuk memelukku. Mas Adi juga mengelus kepalaku dengan lembut dan membiarkan aku menumpahkan tangis kekesalanku dalam pelukannya tanpa berkata-kata.

Perlahan air mataku menyusut dan gemuruh di dadaku mereda. Hatiku mulai terasa longgar. Namun, Mas Adi tidak langsung melepaskan pelukannya sampai aku benar-benar tenang. Setelah itu, Mas Adi mengecup keningku dan menatapku dengan hangat.

“Aku menyayangimu istriku. Kamu kesal, ya? Maafin Mas, ya …  kalau ada sikap Mas yang membuat kamu nggak nyaman. Maafin juga kalau Mas tidak peka pada perasaanmu,” ucap Mas Adi dengan lembut dan menyejukkan hati.

Aah … Mas Adi sangat tahu cara memperlakukan istrinya yang perasa ini. Meski pertanyaanku belum terjawab, setidaknya sikap Mas Adi yang seperti itu sudah dapat menenangkan hatiku yang awalnya penuh curiga dan prasangka terhadapnya. Iya… semudah itu hati seorang wanita seperti ku dapat luruh dengan sebuah pelukan hangat dari suaminya. Setelah itu Mas Adi menjelaskan dan menceritakan tentang temannya yang ternyata adalah sesama jamaah di suatu kajian rutin yang baru diikutinya. Pesan-pesan yang sering masuk ke HP-nya, ternyata juga dari grup kajian tersebut.

“Nah, apa istriku ini masih curiga dan kesal pada suaminya?” tanya Mas Adi sambil mengerlingkan matanya. “Lain kali, kalau ada hal yang membuat kamu tidak nyaman, katakan langsung ya, Sayang. Dengan begitu, kamu mengingatkan aku juga agar tidak lalai dalam bersikap pada istriku tersayang ini.”

Aku hanya menggangguk dan ternyum malu pada Mas Adi karena sudah bersikap kekanak-kanakkan. Tidak sepantasnya aku meragukan suamiku sendiri. Selain itu, sikap Mas Adi sebagai suami yang hangat dan dapat menghargai istrinya, membuat setiap persoalan rumah tangga kami terselesaikan dengan baik. Betapa beruntungnya aku memiliki Mas Adi sebagai suamiku.

Foto: Freepik.com

1+
1 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Read More

Serial Eci (2): Salah

Seakan lupa dengan terik matahari yang baru saja membakarnya di atas ojek, Eci segera mengganti baju seragamnya dengan…
Read More

Dilema

Mike menyeruput kopinya. Ini adalah cangkir kopi ke tiga siang ini. Kepalanya tidak bisa diajak kompromi. Tidak bisa…
Read More

Loh, Kok Saya?

Sejak minggu lalu, jasa servis sol sepatuku sepi.  Pagi ini, aku tetap berangkat menuju pojok di dekat pintu…
Pada Hari itu
Read More

Pada Hari itu

Koper berwarna biru bergambar menara Eiffel itu ditarik oleh Safira dengan gembira ke luar kamar. Hari ini  ia…
Read More

Kerudung Pagi

Done! Freya memandang puas pada tumpukan baju seragam sekolah Chika, putri sulungnya, yang baru dia rapikan. Pas waktunya,…