Tanya untuk Tuhan

 

“Ndah, besok kamu mulai jualan ya, Ibu sudah minta Ceu Lilis untuk menyiapkan bahan jualannya.” Suara Ibu menggetarkan gendang telingaku. Aku mengangguk patuh, bersamaan dengan terbentuknya senyum lebar mengembang di wajahku. Kesempatan yang selalu kutunggu setiap tahun akhirnya tiba juga.

Bulan Ramadan, seperti tahun-tahun sebelumnya, Ibu memintaku untuk berjualan di pelataran supermarket besar itu. Tahun ini adalah untuk yang ketiga kalinya. Aku tidak pernah berjualan selain pada bulan Ramadan. Menurut Ibu, dibandingkan dengan sebelas bulan lainnya, pada bulan ini banyak orang yang membutuhkan bahan makanan lebih banyak dari biasanya, hingga supermarket besar itu akan selalu penuh dengan pengunjung, yang tentu saja akan berdampak pada penjualanku.

Mengisi tiga puluh hari bulan Ramadan menjadi berkah tersendiri untukku. Setiap pagi setelah mengerjakan semua rutinitas pekerjaan rumah yang menjadi kewajibanku, tepat pukul sepuluh, aku akan mengetuk pintu rumah Ceu Lilis, yang bersebelahan dengan pintu rumahku, untuk mengambil wadah makanan berbentuk kotak plastik besar tertutup yang berisi macam-macam olahan singkong dari dapurnya. Ada keripik singkong pedas, keripik singkong gurih, comro, dan misro, semua sudah terbungkus rapi di dalam plastik bening.

Jarak rumahku ke supermarket besar itu tak memakan waktu lama. Cukup lima belas menit berjalan kaki aku sudah tiba di sana. Seharusnya malah bisa lebih cepat, tetapi karena aku harus menyeimbangkan tubuh kecilku dengan beban wadah kotak makanan yang kupeluk di depan dada, langkahku menjadi tak sempurna. Bahkan, kotak plastik itu selalu merosot setiap kali aku mengambil langkah, mungkin karena terlalu berat untukku. Hingga tak heran, setelah beberapa langkah berjalan, aku harus berhenti sesaat untuk mengembalikan letak kotak kembali ke posisi semula. Sebenarnya Ceu Lilis pernah menyarankan untuk membawa kotak makanan yang lebih kecil, sehingga aku tidak akan terlalu kesulitan membawanya, namun aku menolak tawarannya. Semangatku tak pernah surut, tekadku bulat, ingin membantu Ibu. Perlahan tapi pasti, langkahku terus berayun hingga akhirnya supermarket itu tampak dalam bingkai mataku.

Aku tahu Ibu sangat berharap dari hasil jualanku. Apalagi selama bulan Ramadan, Ibu tidak pernah masuk kerja. Ibu bilang, tempat kerjanya ditutup, seluruh karyawan dirumahkan supaya bisa lebih khusyuk beribadah. Wajah polosku lekat menatap mata kosong Ibu ketika menjelaskan hal itu. Seperti ada ruang hampa dalam batin Ibu, yang ingin rasanya segera kuisi untuk membahagiakannya.

Ibu adalah orang tua tunggal bagiku dan Ghifa, adikku semata wayang yang baru berusia tiga tahun. Sejak kepergian ayah tiga tahun lalu, untuk memenuhi kebutuhan kami sehari-hari, Ibu terpaksa bekerja di sebuah pabrik yang beroperasi hanya pada malam hari. Sementara Ibu bekerja, aku menemani Ghifa di rumah.

Setiap malam selepas Magrib, Ibu mulai bersiap untuk kerja. Aku selalu memperhatikan Ibu berhias diri sebelum pergi bekerja. Dandanannya tidak seperti biasa, kali ini lebih berwarna. Sebelum pergi, Ibu selalu berpesan untuk menjaga Ghifa, sambil menunjuk nasi dan lauk sekadarnya yang sudah disiapkan di dapur untuk makan malam kami. Aku mengangguk pelan. Setiap hari aku mendengar pesan berulang itu, hingga sudah kuhafal luar kepala, bahkan intonasi suara Ibu pun aku ingat.

Menjelang dini hari, Ibu baru pulang. Aku selalu mendengar pintu berderak, diikuti oleh ketukan sepatu tinggi Ibu yang terdengar nyaring di telingaku. Aku tahu Ibu lelah, sebelum sampai langkahnya ke ruangan kami, Ibu pasti sudah terlelap di ruang depan yang hanya beralaskan tikar.

Kadang aku bertanya pada Ibu, tentang pabrik tempatnya bekerja. Namun Ibu tak pernah mau bercerita. Ibu hanya memintaku berdoa untuk keselamatannya.

“Tapi kenapa harus bekerja malam hari, Bu?” tanyaku suatu hari. Kasak kusuk para tetangga yang mulai merasa terusik dengan suara berisik motor ojek yang mengantar Ibu setiap dini hari, akhirnya berhasil mengumpulkan energiku untuk bertanya.

“Ibu selalu dapet giliran malem, Ndah,” jelas Ibu sambil menatapku tajam. Sorot matanya seolah memberi kode untuk tidak perlu menanyakan itu lagi.  Lama-lama memang aku semakin tak peduli. Setiap malam aku hanya bisa merindu berharap Ibu bisa menemaniku dan Ghifa. Bisikan para tetangga pun tak pernah kurisaukan lagi.

Lamunanku buyar, ketika suara serak seorang ibu setengah baya menanyakan harga satu bungkus misro. Aku tersentak, dan spontan menyebutkan sebuah angka rupiah. Wajah cekung kuyu berdebu dengan rambut lurus kusut tak terurus dipadu tatapan sayu dari kedua bola mataku, terasa lengkap menyambut pembeli pertamaku hari ini. Dia memilih beberapa bungkus makanan, yang kemudian aku masukkan ke dalam kantung kresek hitam yang sudah disisipkan Ceu Lilis di bagian samping kotak plastik. Lantas tak lama berselang, dia menyerahkan sejumlah uang padaku. Cukup banyak, melebihi total harga pembelian.

“Ambil saja kembaliannya untukmu ya, Dik.” Mata polosku menatapnya, seraya mengangguk tanda terima kasih.

Aku sama sekali tak terkejut, sudah sering aku mendapat perlakuan seperti ini. Menurut teman-temanku yang biasa berjualan, memang pada bulan Ramadan, banyak pembeli yang lebih bersimpati pada kami. Mereka selalu memberikan uang lebih. Bahkan, kadang tanpa membeli pun mereka sering memberikan sedekah, baik berupa uang atau pun makanan. Semuanya kuterima dengan senang hati.

Waktu terus berjalan, seiring dengan bayanganku yang semakin pendek, bungkus makanan dalam kotak plastikku pun semakin berkurang jumlahnya. Sejak tiba tadi, aku tak beralih dari tempat dudukku,  di ujung anak tangga yang menghubungkan bangunan supermarket dengan area parkir. Di sinilah tempat favoritku menunggu pembeli. Tak kupedulikan sinar matahari yang semakin terik membakar kulit. Setiap ada pengunjung yang melintas, suara lirihku terdengar menawarkan dagangan.

Hingga tepat menjelang azan Zuhur, bungkus terakhir habis terjual.

Saatnya aku pulang!

Dompet kain lusuh milik Ibu pun sudah semakin sesak dengan lembaran rupiah yang mayoritas berwarna hijau dan ungu. Aku tak sabar ingin memberikannya kepada Ibu. Dengan wajah berseri, aku setengah berlari menuju rumah Ceu Lilis.

“Kok cepet, Ndah?” Ceu Lilis menyapaku di depan rumahnya. Dia sedang asyik mengobrol dengan tetanggaku yang lain.

“Iya Ceu, hari ini lebih ramai yang belanja,” jawabku senang, “besok pagi seperti biasa ya, Ceu.”

Mangga, meni sumanget* si Endah jualan, mau bantu ibunya, ya?” ”

Aku mengangguk penuh semangat, tak kuhiraukan peluh yang mulai membasahi kaus berwarna hijau pudar yang kukenakan. Setelah mengucapkan salam pada Ceu Lilis aku pun berlari riang menuju pintu rumahku dan memanggil Ibu.

Aku benar-benar bahagia. Mata Ibu berbinar memandang hasil jualanku hari ini. Aku tahu, Ibu bangga padaku. Ibu memelukku erat, dan aku pun tenggelam dalam dekapannya. Mataku terpejam, menikmati kehangatan yang selalu kurindu. Pada detik itu, jiwaku seolah melayang, ingin rasanya saat itu aku bertemu Tuhan, dan mendengar jawab-Nya atas segala tanyaku.

Mengapa bulan Ramadan menjadi begitu istimewa, Tuhan? Bukankah Engkau mencipta segala sesuatu dengan kemuliaan, Tuhan? Mengapa hanya bulan Ramadan, Tuhan? Seandainya setiap bulan seperti bulan Ramadan, tentu aku bisa terus membantu Ibu dan akan selalu bersamanya setiap malam.

Mataku menutup semakin rapat, erat melekat. Lelah mulai membungkus alam sadarku. Perlahan usapan lembut Ibu mengantarku memeluk mimpi.

 

***

*Mangga, meni sumanget: iya, semangat banget

 

Foto: Freepik.com

3+
1 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Read More

Antar Anak?

Bu Ira menengok ke kanan dan ke kiri. Sesekali matanya melihat jam yang ada di tangannya.  Waktu sudah…
Read More

Takjil Kesukaan Lona

oleh: Ibuw Sansris Kaki kecil itu menerjang genangan daun kering di trotoar. Suara ‘kriuk’ gurih daun yang sudah…
Read More

Kiriman Doa

Sabtu Sore, Mail dan Surya sedang bersepeda bersama.   Tiba di  pos kamling di sebuah perempatan jalan, Surya melihat…
Read More

Kebun Tebu Pak Jumali

Bobby menggenjot pedal sepeda dengan sekuat tenaga. Ia ingin cepat sampai di rumah. Kebun tebu milik Pak Jumali…
Read More

Celengan

Suasana pagi hari yang tenang mendadak ramai bak pasar. “Yaaa… sepatuku mangap!” pekik Meli. Matanya melebar, ia menggigit…
Read More

Salak Mak Rini

Mak Rini berjalan menyusuri gang-gang pasar tradisional yang cukup ramai. Hari ini Mak Rini ingin membeli buah untuk…